Quranic Studies

Sebuah Refleksi: Metode Ideal Memahami Alquran untuk Generasi ke Depan; Fahm al-Maqru’ ‘Ala Hasb al-Jadarah

Belakangan, sudah banyak metode yang ditawarkan dalam memahami Alquran. Mulai dari pemahaman-pemahaman terhadap Alquran melalui ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, dengan sababunnuzul, dengan perkataan sahabat, melalui makna kata, melalui tafsir para ulama, pendekatan hermeneutik, sampai pada pembacaan kontekstualis ayat-ayat Alquran. Semua metode yang ditawarkan ini mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, bahkan boleh jadi melengkapi satu sama lain.

Sumbangsih sarjana Alquran diantaranya adalah berusaha bagaimana caranya membumikan Alquran dan mewujudkan generasi Qurani. Sebab Alquran diyakini sebagai firman Tuhan yang mencakup semua norma dan aturan kehidupan pri-kemanusiaan. Berangkat dari keyakinan semacam itu, upaya manusia untuk memahami apa yang dikehendaki Allah melalui firman-firmanNya sesuai dengan pemahaman dan kemampuan manusia disebut dengan tafsir.

Pertanyaannya adalah apakah me-nafsir Alquran hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu atau bisa dilakukan oleh semua manusia –khususnya Muslim? Mengingat kebutuhan manusia yang sangat kompleks dan berbagai macam, sangat tidak mungkin semua manusia duduk pada profesi tertentu. Lalu jika demikian, sampai mana hubungan manusia dengan Alquran ini?

Sebagai mahasiswa yang konsen mempelajari kajian Alquran, saya merasa tertantang berpikir mengenai metode ideal memahami pesan-pesan Tuhan ini. Mulanya hanya memenuhi tugas dari Profesor. Namun, semakin dipikirkan semakin menggelitik. Pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya menuntut saya untuk menemukan jawaban sebenarnya. Dengan harapan, pemahaman Alquran tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan-kalangan tertentu (sarjana/cendekiawan Muslim). Melainkan juga oleh Muslim awam.

Quraish Shihab mengutip perkataan ‘Abdullah Darraz pada pengantarnya dalam buku Membumikan Alquran:

“Apabila Anda membaca Alquran, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi bila Anda membacanya sekali lagi, akan Anda temukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna-makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda (dapat) menemukan kalimat atau kata yang mempunyai arti yang bermacam-macam, semuanya benar atau mungkin benar. (Ayat-ayat Alquran) bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang Anda lihat”.

Artinya, pemahaman satu orang belum tentu sama dengan pemahaman orang lain. Sehingga, Alquran sangat memungkinkan dirinya dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Dari perkataan ‘Abdullah Darraz di atas, saya menyimpulkan beberapa poin terkait bagaimana metode ideal dalam memahami Alquran:

  1. Pelaku Tafsir

Karena Alquran bisa dibaca dan dipahami oleh semua orang, maka setiap manusia berhak menafsirkan dan mempunyai sudut pandang sendiri terhadap Alquran. Mengenai pemahaman ini, sudah banyak langkah-langkah, metode-metode, kaidah-kaidah penafsiran yang ditulis oleh ahli ilmu-ilmu Alquran. Baik dari cendekiawan Indonesia seperti Quraish Shihab, Prof. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Prof. Ali Yafie, termasuk juga Prof. Muhammad Chirzin, maupun dari para pakar-pakar Timur Tengah seperti al-Zarkasyi, Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Suyuthi, al-Farmawiy. Jika mau lebih up to date dengan perkembangan kajian tafsir dunia, bisa juga membaca kajian-kajian para orientalis seperti Ignaz Goldziher, Angelika Nouwerth, Reimund Leicht dan lain sebagainya.

  1. Hubungan Manusia Dengan Alquran

Jika Alquran dibaca dan mampu dipahami oleh semua kalangan, implikasinya adalah hubungan manusia dengan Alquran semakin harmonis. Semakin manusia kembali pada Alquran, semakin membumi Alquran di dunia. Keharmonisan interaksi Alquran dan manusia akan membuktikan bahwa Alquran Shalih Li Kulli Zaman wa Makan. Setiap elemen, jenis, ras, atau apapun mampu berinteraksi dengan Alquran sesuai kemampuan yang mereka punya.

Lalu, apa yang ditawarkan untuk memahami Alquran bagi setiap elemen manusia?

Pelaku tafsir sudah ditentukan. Semua kalangan boleh memahami atau menafsirkan Alquran sesuai kadar kecerdasan dan kemampuan pengetahuan pembaca. Adapun memahami Alquran tidak bisa hanya sekali dua kali bacaan. Melainkan butuh berkali-kali bahkan berjam-jam untuk memahami sepenggal ayat. Ayat dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tanda. Sudah barang tentu pada ‘tanda’ ada hal yang tersirat maupun tersurat. Ada hal yang langsung bisa dipahami, juga ada hal yang tidak bisa secara langsung dapat dipahami. Antara kejelasan dan ketidakjelasan makna ini berkaitan sedemikian rupa sehingga bila dipahami oleh pikiran, maka ketidakjelasan bisa diperjelas dan dipahami juga oleh jiwa seseorang.

Secara sederhana saya mengelompokkan jenis manusia dengan berbagai model cara mereka berinteraksi terhadap Alquran ke dalam empat kategori:

  1. Bisa Membaca Alquran

Orang yang masuk dalam kategori ini cukup memahami Alquran dengan membacanya. Hal itu sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Contoh: seorang Muslim yang sudah tua yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan, baik formal maupun non formal diperbolehkan berinteraksi dengan Alquran sesuai kemampuan yang dia bisa. Target utama mereka adalah membumikan Alquran dengan cara membaca ayat-ayatNya di sisa umurnya. Mungkin bacaannya terbata-bata, tetapi akan lebih nilainya dibanding sama sekali tidak pernah menyentuh mushaf. Begitu juga dengan mereka yang bisa membaca Alquran dengan baik dan benar (ber-tajwid) namun kurang pengetahuan dalam memahami atau menafsir hal yang tersirat. Orang-orang ini bisa diberikan solusi untuk memahami makna dari kata-kata Alquran melalui terjemahnya.

  1. Bisa Membaca Dengan Baik dan Benar + Memahami Bahasa Arab

Kategori ini sedikit lebih berkualitas pemahamannya dari kategori pertama. Targetnya otomatis setingkat di atas target sebelumnya. Artinya, cara mengamalkan Alquran juga harus melebihi target yang pertama. Biasanya kategori ini dihuni oleh jebolan pesantren karena pesantren sangat intens dalam mengajari bahasa Arab. Namun, tidak menutup kemungkinan orang non-pesantren masuk dalam kategori ini. Mereka yang ada di kategori ini, selain dengan membaca terjemah Alquran, mereka juga menambah pengetahuannya dengan membaca tafsir karya-karya mufasir sebelumnya, membandingkan pemahaman orang lain sehingga kemudian menjadikan kristal keyakinan dalam pemahamannya itu untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Profesi apapun, orang hendaknya mengamalkan pesan-pesan Alquran ke dalam kehidupan nyata.

Dan tidak menutup kemungkinan, orang yang bisa membaca Alquran dengan baik dan benar, punya kemampuan berbahasa Arab, akan mampu memahami pesan-pesan Tuhan dengan baik. Dengan kata lain, boleh jadi, mufasir-mufasir Alquran lahir dari kategori ini.

  1. Penghapal Alquran

Penghapal Alquran mempunyai tanggung jawab moril dalam penjagaan hapalan. Setiap hafidz Alquran mempunyai target sendiri dengan cara masing-masing dalam menjaga hapalan Alquran. Di Timur Tengah, hafidz Alquran sudah bukan hal yang ‘wah’, karena sudah banyak hafidz Alquran di negara tersebut. Di universitas al-Azhar Kairo, misalkan. Standarisasi kelulusan S1, orang-orang asli Mesir diwajibkan hapal Alquran 30 juz yang dibuktikan dengan uji lisan dan tulisan.

Pemahaman terhadap Alquran bagi seorang penghapal kurang lebih sama dengan kategori pertama. Target utamanya adalah bagaimana hapalan terjaga dengan baik dan benar. Kendati demikian, mereka bisa memahami ayat Alquran melalui pembacaan terhadap terjemah Alquran. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini bisa jadi duduk diberbagai profesi. Dokterkah ia, polisi, guru, dosen, politikus, supir, wirausahawan, bisnisman dan lain sebagainya. Hapal Alquran dengan berbagai profesi tidak menutup kemungkinan. Malah justru –menurut hemat pandangan saya- akan memperkuat dan memperkaya generasi ke depan dan mewujudkan impian generasi Qurani. Bayangkan anak-anak yang akan datang tetap berusaha menjaga hapalan Alquran dengan tidak melupakan eksistensinya di dunia. Dengan caranya, mereka mengamalkan dan memahami Alquran sesuai dengan kemampuan mereka.

  1. PenghapalAlquran + Memahami Bahasa Arab

Kategori ini adalah kategori inti dari topik yang sedang diangkat. Orang-orang yang menghapal Alquran disertai dengan pemahaman terhadap bahasa Arab yang baik lebih bisa mengekspresikan dirinya dalam memahami Alquran. Tolok ukur yang saya pakai dalam standar utama untuk memahami Alquran adalah penguasaan bahasa Arab, karena Alquran diturunkan dengan berbahasa Arab.

Orang yang bergelut dalam bidang ini biasanya para ahli dan pakar-pakar tafsir. Mereka mempelajari bagaimana cara menafsirkan Alquran, selalu up to date dengan perkembangan-perkembangan khasanah keilmuan tafsir. Mereka juga merumuskan bagaimana metode-metode terbaik untuk memahami ayat-ayat Alquran. Abdullah Saeed mengidentifikasi pendekatan muslim dalam pemahaman Alquran (khusunya terhadap ayat-ayat etika-hukum) pada periode modern ke dalam tiga bentuk: Tekstualis, Semi-Tekstualis, dan Kontekstualis. Hal ini didasarkan pada sejauh mana penafsir berpegang pada kriteria linguistik untuk menentukan makna teks, memperhitungkan konteks sosio-historis, dan konteks kontemporer masa sekarang.

Kelompok Tekstualis mengikuti teks dan mengadopsi pendekatan linguistik terhadap teks. Pandangan kelompok ini mengatakan bahwa Alquranlah yang harus menuntun umat Islam, bukan apa yang disebut dengan ‘kebutuhan-kebutuhan’ modern. Jadi ketika menafsirkan teks, mereka menganggap makna Alquran sudah tetap dan universal, tanpa memperhatikan konteks sosio-historis tatkala teks diwahyukan. Sedangkan Semi-tekstualis, dasarnya kelompok ini mengikuti Tekstualis pada penekanan linguistik dan menolak konteks sosio-historis ketika menafsirkan. Bedanya, mereka mengemas ayat-ayat (khususnya ayat etika-hukum) dalam idiom ‘modern’.

Yang terakhir adalah kelompok Kontekstualis, mereka menekankan konteks sosio-historis. Kelompok ini mengusulkan penafsiran ayat dengan memahami konteks politis, sosial, historis, kultural, dan ekonomi ketika ayat ini diturunkan. Kesannya, kelompok ini lebih memberikan kebebasan dalam menginterpretasikan ayat Alquran untuk menentukan yang bisa dan tidak bisa berubah.

Memahami Alquran dari sudut pandang manapun nampaknya menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern. Alquran tidak akan berubah sekalipun dipahami dengan multi-tafsir. Beberapa tahun ke depan, mungkin makna penafsiran juga sudah bergeser. Buku-buku tafsir Alquran tidak lagi dibukukan 30 juz dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas. Orang-orang lebih suka membukukan tafsir dengan menggunakan metode tematik misalkan, sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Atau bahkan, mencomot ayat-ayat yang pas untuk menguatkan ideologi-ideologi tertentu.

Tidak dinafikan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran secara leterlek membuat orang yang menafsirkannya terkesan kaku dan cenderung tidak bersesuaian dengan kemajuan zaman. Namun, pemahaman berbentuk kontekstualis juga akan melahirkan dilema. Sebatas mana pemakaian makna yang tampak dan yang tersirat, juga sebatas mana keduanya bisa relevan satu sama lain. Hal ini tentunya tidak mudah, akan tetapi bisa diterapkan. [Allahu A‘lam Bisshowab]

 

You may also like...