Ahad, 30 april 2017.
Perkenalkeun… Aku seorang mahasisiwi fakultas Ushuluddin jurusan Studi Quran. Sekarang sedang sibuk-sibuknya menulis tugas akhir, tesis! Aku mau memulai menulis kegiatan harianku di sela-sela waktu suntukku mengerjakan tugas akhir. Aku pikir, akan lebih indah menuangkan rasa cinta ini ke dalam sebuah tulisan. Hehe
Kenapa tulisan pertama ini berjudul the first journey? Biasanya kan pengalaman berkesan akan dijadikan tema yang paling melingkupi perasaan. Iya ngga? Iya donk. Ini hari pertama kami terbang dari Palembang menuju Yogyakarta. Kami? Iya.. kami. Karena kenyataannya aku tidak terbang sendiri. Tapiii, aku ditemani oleh sang calon pemilik hati seutuhnya. Dewh, bahasanya pemilik hati.. ah ga apalah, memang nantinya hatiku ini akan dimiliki olehnya.
Jadi, sebelum kami menyeberang pulau pada dua minggu sebelumnya, kami melangsungkan pertunangan. Seorang yang dengan gagah meminangku untuk menemani perjalanan hidupnya. Seseorang yang dengan yakinnya memintaku untuk berjuang bersama. Kenal di mana? Serius-seriusnya semenjak aku upload sebuah foto di instagram, foto Risol.
Well, kuperkenalkan dulu calon suamiku ini…Adalah seorang yang terlahir di sebuah desa di daerah Sumatera Selatan, desa yang ngga ketinggalan-ketinggalan amat ataupun maju-maju amat, desa di mana masa kecilku kuhabiskan di sana, desa orangtuaku dan orangtuanya berasal. Ya, asal kami adalah sama! Namun masa kecilnya tidak begitu banyak dihabiskan di desa itu. Dia dibawa tinggal ke kota bersama orangtuanya. Waktunya dihabiskan di kota dan berkembang di sana.
Adalah seorang sarjana Humaniora lulusan universitas ternama, Universitas Padjadjaran namanya. Seorang yang aktif ketika kuliah. Ikut seminar sana-sini, kegiatan protokoler, workshop, penyiar radio dan aktif menulis essay.
Adalah seorang yang bagiku luar biasa. Di usia mudanya, dia memiliki banyak pengalaman yang membuatku iri. 2013 lalu, kami sempat bertemu di rumah Limas Kairo meski pertemuan tersebut hanya berkisar 5-10 menit. Belum aku tahu banyak kabarnya, aku sudah mendengar dia berpindah tempat menuju Oman. Katanya sih magang di sebuah perusahaan minyak Indonesia yang ada di Oman. Terakhir kami berkomunikasi, aku sedang menjalankan tugas militerku sebagai mahasiswi S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan dia sedang bekerja di sebuah perusahaan retail yang ada di negara Bahrain.
Namanya Usmari, kelahiran 3 Juni 1992. Dulu dia menyapaku dengan sebutan ayuk. Tahu kenapa? Karena aku lebih dulu lahir satu bulan 15 hari. Sebelum-sebelumnya kami tidak intens berkomunikasi. Se-ingatku, kami menyapa sekali di setiap awal tahun semenjak 2013. Itupun ala kadarnya.
Sesampainya di Yogyakarta, tidak ada itinerary khusus yang kami buat. Aku hanya bertanya destinasi apa yang ingin dia kunjungi. Kami sepakat untuk tidak sewa mobil ataupun motor. Kami hanya mengandalkan angkutan umum dan tentu, aplikasi Go-Jek. Karena daerah bandara dipenuhi oleh taksi-taksi konvensional, kami tidak bisa memesan Go-Car. Kami menumpang Trans-Jogja menuju hotel yang sudah dipesan, Puri Chorus Hotel.
Pengalaman perjalanan pertama yang begitu menggoda, kami berusaha memahami satu sama lain, menyesuaikan satu dengan yang lain, belajar untuk menjadi pasangan yang mengerti bagi yang lain. Namun tidak begitu banyak hal yang kami lakukan hari itu. Hotel yang sudah dipesan sebelumnya ternyata penuh, sehingga kami dipindahkan ke hotel tetangga, Paramitha hotel. Makan malam kami pesan online lewat Go-Food. Menjelang malam, aku pamit pulang ke kos.
*to be continue
Tulisan dibuat oleh Ms. K.A (my future wife)
