Kurang lebih tujuh tahun (2003-2010) saya tinggal di lingkungan pesantren. Juli 2003, saya tercatat sebagai santri Madrasah Tsanawiah dan pada 2006 sebagai santri Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Al-Ittifaqiah di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya. Kala itu, pendidikan berbasis pesantren masih dianggap asing di desa saya. Anak-anak lebih memilih melanjutkan ke sekolah negeri dan masih sedikit yang ingin sekolah ke pondok pesantren. Selama berada di pesantren, banyak hal yang saya alami dan pelajari. Pengalaman tersebut tentu sangat berperan dalam membentuk diri saya sekarang. Saat essai ini ditulis, saya mencuri waktu penulisan tesis di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan harapan cuplikan cerita nostalgia semasa di Al-Ittifaqiah yang tertuangkan dalam tulisan ini dapat semakin menyemarakkan kesyukuran menyambut setengah abad Al-Ittifaqiah dari para alumninya.
Kesan Pertama Begitu Menggoda
“Ba, pokoknyo Ayuk nak mondok…!” Entah dari mana tekad itu, yang saya tahu saya hanya ingin melanjutkan sekolah jika dimasukkan ke sekolah berbasis pesantren. Antara bulan Mei-Juni 2003, saya diajak Baba berkunjung ke Pondok Pesantren al-Ittifaqiah. Pondok tersebut terletak di pinggir jalan Lintas Timur Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan. Dulu, bangunan pesantren tidak seperti sekarang. Gerbang pesantren masih terbuat dari kayu namun apik. Masuk halaman pesantren menengok ke sebelah kanan berdiri gedung putih dua lantai yang kokoh. Di seberang gedung putih, sebelah kiri dari gerbang utama berdiri masjid sederhana, yang dulu bernama Masjid Darul Arqam.
Rupaya ketika itu, pondok pesantren sedang membuka penerimaan santri baru. Karena sudah tekad untuk mondok dan yang saya tahu ya hanya pondok Al-Ittifaqiah, maka saya langsung mengikuti tes ujian masuk. Saya ingat betul yang menguji saat itu adalah ustadzah Fitriani Taswin. Saya tidak mengalami banyak kesulitan. Materi-materi yang diujikan adalah seputar pengetahuan dasar anak-anak Muslim. Sejatinya sudah saya pelajari sebelumnya, seperti mengaji Iqra’, belajar rukun iman, rukun Islam, cara-cara berwudhu dan sebagainya.
Juli 2003, awal mula petualangan sebagai santri. Saya jauh dari orang tua. Saya mulai belajar menjalani hidup secara mandiri. Belajar budaya antri untuk mengambil makan dengan puluhan para santri, berebutan waktu dan tempat dengan ayuk-ayuk dan teman-teman sewaktu mandi, belajar menata isi lemari sebaik mungkin di dalam lemari yang ukurannya tidak seberapa (dulu masih memakai lemari berjajar dari pondok), tidur berhimpitan dengan teman-teman seangkatan karena itu sering disebut ‘susun dences’, penyesuaian waktu yang jam 10.00 malam baru tidur dan harus bangun pukul 04.00 pagi, dan kebiasaan hidup di pondok lainnya.
Hari-hari pertama di pondok terasa sangat menyenangkan. Saya bisa berkenalan dengan para santri dari daerah-daerah lain. Meskipun menjadi santri baru Tsanawiyah, tetapi justru santri yang pertama kali saya kenal adalah Amelia Yulistina, santri tingkat Aliyah. Saya heran, dia kelihatan sibuk sendiri. Kadang dia santai, tetapi di waktu lain dia terus-terusan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Rupanya ayuk Amelia ini santri yang mengikuti program tahfidzh, ia bersama santri yang lain diasramakan secara khusus. Inilah kesan pertama yang membuat saya tertarik untuk menghafal Al-Qur’an. Karena itu, saya juga mendaftarkan diri ikut program LEMTATIQI (Lembaga Tahfidzh, Tilawah, dan Ilmu Al-Qur’an Al-Ittifaqiah) dan mulai mengikuti kelas khusus, program tahfidz.
Surat Perjanjian
Secara resmi saya sudah tercatat sebagai santri di LEMTATIQI tapi belum diperbolehkan bergabung ke asrama khusus. Kami santri baru diberikan training terlebih dahulu untuk melihat seberapa jauh kedisiplinan dan tekad kami. Beberapa santri baru ikut bergabung ke lembaga ini. Pagi hari kami mengikuti kegiatan umumnya santri, di sore hari kami setor hafalan Al-Qur’an. Guru pembimbing tahfidz pertama saya adalah ustadzah Muyassaroh al-Hafidzhah, di pondok beliau akrab dipanggil Ibu Muyas.
Kami menjalani kegiatan di LEMTATIQI dengan senang dan bersemangat. Sampai pada suatu hari kami dikumpulkan dan disodorkan surat perjanjian. Kurang lebih isinya, berbunyi: “Demi Allah, saya akan mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an dan tidak akan pindah sekolah.”
Saya baca baik-baik surat perjanjian itu dan saya komunikasikan ke orang tua. Awalnya Baba sangat senang mengetahui saya ikut tergabung dalam program tahfidzh. Tetapi ketika surat tersebut sampai kepada beliau, justru beliau mengkhawatirkan saya. Apakah saya betul-betul dan bertekad kuat untuk menjadi bagian dari keluarga Allah? Karena menghafal Al-Qur’an bukan sekedar hafal, tetapi juga menjaganya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, “menjaga hafalan Al-Qur’an lebih mudah lepas daripada seekor unta yang terikat. (HR. Bukhari, No. 5033 dalam kitab Fadhail Al-Qur’an, bab 22; Muslim, No. 791 dalam Kitab Shalat orang yang berpergian dan qashar, bab 23).
Saya ragu, saya tidak punya pemahaman baik tentang hadis tersebut di waktu itu. Ditambah lagi tulisan sumpah atas nama Tuhan di awal surat perjanjian. Saya takut tidak bisa mengemban amanah yang bukan hanya bertanggung jawab terhadap guru, tapi juga pertanggungjawaban sebagai seorang makhluk kepada Khalik. Karena alasan tersebut, saya memilih keluar dari LEMTATIQI dan menjalani kegiatan seperti santri pada umumnya. Saya bergabung dengan kelompok daurah khusus (dulu bernama The Best Ride) di bawah asuhan ustadz Mardiyansyah—kini menjadi salah seorang anggota DPRD tingkat provinsi Sumatera Selatan. Tahun pertama di Tsanawiyah saya habiskan untuk belajar bahasa dan sama dengan santri-santri lain, mengikuti berbagai kegiatan kepondokan yang padat dan penuh kedisiplinan.
Dilema dan Dua Hikmah
Memasuki tahun kedua saya galau. Semangat untuk mengahafal Al-Qur’an masih menggebu-gebu sedang perjanjian atas nama Tuhan menari-nari dihadapan. Saya pun berkonsultasi lagi dengan orangtua, kesimpulan terakhir saya diperbolehkan mengikuti kembali program khusus tahfidz dan berjanji untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya. Saya secara rutin menghafal di bawah bimbingan ustadz Royani Abdul Mudi al-Hafidz. Kali ini saya tinggal di asrama khusus dan mulai mengikuti kegiatan rutin di LEMTATIQI. Setahun kemudian, saya pun lulus Tsanawiyah dan melanjutkan ke tingkat Aliyah al-Ittifaqiah.
Saya berkomitmen dengan keputusan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Tentu tidak mengenyampingkan kegiatan pendidikan reguler seperti biasa. Sebagai santri lama yang melanjutkan ke tingkat Aliyah, saya bersama teman-teman seangkatan masuk program Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Karena itu, selain tetap belajar Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS, kami juga mendapat pelajaran Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadits, Fiqih, dan Sejarah yang menggunakan buku berbahasa Arab sesuai kurikulum dari Kementerian Agama. Tentu saja, pelajaran tersebut, ditambah pula dengan kurikulum pondok seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Tafsir, Fiqih, Tauhid, Nahwu, Sharaf, Hadis, Sirah Nabawi, dan Ilmu Waris. Selain itu, setiap sore hari kami menyetorkan hafalan Al-Qur’an.
LEMTATIQI sesungguhnya sama dengan kegiatan ekstra kurikuler lain yang ada di pondok. Kalau kami memilih menghafal Al-Qur’an, maka ada pula santri yang memilih untuk belajar keterampilan (menjahit, menyulam), kelas khusus bahasa, kelas beladiri (Tapak Suci), kelas olahraga (Volly Ball, Tenis Meja, Takraw, Sepak Bola, Sena Santri), atau kelas seni (Rebana, Kaligrafi, Nasyid, Drama, Puisi). Bedanya, bagi santri yang menghafal Al-Qur’an diberikan kewajiban untuk fokus, sehingga dibebaskan untuk tidak mengikuti kegiatan lain. Selama nyantri, saya lebih banyak berkiprah di dunia tahfidz. Waktu itu, kami tidak diperbolehkan mengikuti organisasi apa pun atau kegiatan ekstra kurikuler lain. Kami hanya fokus menghafal Al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan yang kami ikuti semuanya tentang Al-Qur’an, yaitu tahfidz, tilawah, juga tafsir.
Suatu hari, saya dan beberapa teman dipanggil oleh Bagian Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar). Awalnya saya belum mengerti untuk apakah kami dipanggil dan dikumpulkan. Rupanya dikumpulkan untuk mengikuti tes seleksi program JENESYS Study Exchange ke Jepang kerjasama Menpora dan JICE. Tentu saja pemanggilan yang tiba-tiba dan tanpa persiapan tersebut, membuat saya kaget apalagi dibandingkan teman-teman lain saya merasa yang paling tidak memenuhi kualifikasi. Beberapa peserta tes, termasuk kakak-kakak kelas, menurut saya mempunyai kemampuan Bahasa Arab dan Inggris yang sangat baik. Namun, yang lebih mengagetkan saya, ternyata dari hasil tes saya terpilih untuk mewakili Al-Ittifaqiah—satu-satunya di Sumbagsel yang mengirimkan—delegasi dari Indonesia untuk program tersebut.
Saya sangat bersyukur, bukan karena lulus sebagai delegasi, tetapi mendapat kepercayaan membawa nama Al-Ittifaqiah. Dan, kesempatan ini bukan akhir justru permulaan dari proses yang harus saya jalani sesungguhnya. Karena bagi Al-Ittifaqiah sendiri program ini merupakan yang pertama, maka saya pun harus mengikuti program penguatan bahasa secara intensif. Kursus-kursus ekstra saya jalani, di samping persiapan lain seperti pengurusan pemberkasan dan pengetahuan umum tentang Jepang, negara yang akan dituju dalam program ini. Meski demikian, saya tidak melupakan kewajiban saya untuk menghafal. Dari kemampuan, bahasa atau pengetahuan tentu bisa saja banyak yang lebih baik, tetapi mengapa saya bisa lulus, tiada lain semua itu karena berkah Al-Qur’an. Al-Qur’an, demikian kata Ibu Muyas. Kata-kata itu saya ingat betul, karena itu saya pun tidak pernah lupa untuk tetap menghafal Al-Qur’an.
Alumni Tetap Menjadi Santri
Santri umumnya merupakan sebutan untuk siswa pondok pesantren. Berbeda dengan siswa sekolah, para santri menjalani pendidikan dan tinggal di asrama pondok. Dengan begitu, sepanjang hari dari bangun tidur sampai tidur kembali, para santri berada dalam proses pendidikan di pondok. Selain mendalami ilmu-ilmu agama, para santri juga diajarkan bagaimana bersikap, berkata-kata, dan bertingkah laku yang baik (akhlak karimah). Di pondok para santri juga mendapat pengajaran bahasa asing (Arab dan Inggris) tidak saja teori tetapi juga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari di pondok. Karena secara khusus para santri belajar ilmu agama, masyarakat pun memberikan penilaian bahwa para santri menguasai ilmu agama sekaligus dapat mengajarkan dan mengamalkan dalam kehidupan di masyarakat.
Karena itu, setelah lulus dari pondok, para santri yang dulu belajar di pesantren sesungguhnya dituntut mencerminkan dirinya sebagai seorang santri ketika telah menjadi alumni. Ketika hidup di masyarakat, seorang santri diharapkan dapat mencerminkan karakter santri yang Islami, akhlaki, dan Qur’ani. Bila di pesantren ia belajar membaca kitab-kitab dan menghafal berbagai ilmu agama, maka ketika menjadi alumni semua ilmunya itu harus ia tampilkan dalam lingkungan masyarakat sehari-hari. Lebih dari itu, dalam kehidupan yang lebih luas para santri dituntut kontribusinya bagi perubahan masyarakat bangsa. Dari sisi itu, para alumni membawa nama baik almamternya. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukannya maka itu akan dinilai masyarakat tidak saja untuk dirinya, tetapi melekat pula dengan pondok tempatnya belajar. Begitu pun sebaliknya, kalau dia melakukan keburukan sekecil apa pun, maka akibatnya bukan saja bagi dirinya pribadi tetapi juga pondok yang akan menanggungnya.
Ketika masih kuliah dai Universitas al-Azhar Kairo, teman-teman saya sering bertanya asal-usul sekolah. Rupaya Al-Ittifaqiah tidak terlalu familiar, di mana Indralaya dan Ogan Ilir pun mereka masih asing. Perlu juga dicermati bahwa data LPDP menyebutkan bahwa Ogan Ilir masih termasuk kabupaten tertinggal. Karena itu, kita perlu terus melakukan upaya untuk mempromosikan al-Ittifaqiah. Harus semakin banyak pula, para alumni yang berkiprah dan dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional. Dalam rangka itulah, beberapa hal perlu menjadi perhatian kita bersama, antara lain:
Pertama, penguatan sistem dan kaderisasi SDM pondok. Hal terpenting yang harus dipromosikan sebuah lembaga pendidikan adalah keunggulan dan kekhasan dari sistem dan metode pendidikan yang dikembangkannya. Di tengah semakin menjamurnya sekolah-sekolah Islam unggulan dan kebijakan sekolah gratis pemprov Sumsel, apa keunggulan pondok dibandingkan sekolah lain, apa yang hanya ada di pondok dan tidak ada di tempat lain? Prestasi siswa dan kualitas lulusan menjadi syarat utama keberhasilan dari proses dan output pendidikan yang dijalankan pondok. Pondok harus membuka diri terhadap perkembangkan dan mampu beradaptasi dengan tantangan dan perubahan zaman. Kalau kita melihat pertambahan jumlah santri yang semakin meningkat setiap tahun, berarti pondok tetap mempunyai daya tarik bagi masyarakat. Karena itu, memperkuat daya magnet itulah yang menjadi pekerjaan rumah pondok.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan SDM pondok yang berkualitas dan profesional. Standar kompetensi keilmuan dan kinerja SDM penting untuk dimaksimalkan. Lebih dari itu, komitmen pengabdian para guru, pengurus, dan karyawan tidak bisa dinafikan, bahkan harus terus diperkuat. Karena SDM pondok tidak sekadar bekerja seperti di intansi atau sekolah pada umumnya, tetapi dilandasi panggilan pengabdian mendidik generasi umat yang unggul di masa depan. Hal ini menjadi modal utama keberkahan pondok. Sebab para SDM pondok, tidak melihat pendapatan secara materi, tetapi dengan keikhasan dan kelapangan hati melakukan berbagai upaya (mujaddadah), meningkatkan potensi, berinovasi, dan berkarya meski di tengah segala keterbatasan fasilitas maupun barakah yang diterima. Karena itu, spirit perjuangan, keikhlasan, kesabaran, dan istiqamah dalam pengabdian perjuangan menjadi kekuatan semesta yang sangat dahsyat dalam prestasi dan kinerja pondok.
Kedua, memaksimalkan peran alumni. Setelah lulus, umumnya para santri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, baik bidang keagamaan maupun bidang lainnya. Alumni angkatan kami (2010) misalnya, beberapa di antaranya melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Fatah Palembang, Universitas Sriwijaya, STEI Tazkia Bogor, dan Sekolah Keperawatan. Kemudian, banyak pula yang menekuni sejumlah profesi seperti pegawai bank, Polisi, advokasi, guru atau ustadz/dzah, bidan, dosen, dan sebagainya. Potensi para alumni dengan berbagai latar belakang ini penting untuk terus dimaksimalkan. Silaturahmi sesama alumni, baik komunikasi, kegiatan, maupun sejumlah ide dan gagasan, merupakan media untuk terus menjaga hubungan dengan pondok, sembari mengaktualisasikan diri dalam kiprahnya di masyarakat.
Ketiga, mempererat ikatan batin alumni dengan pondok. Dapat dibayangkan bila semakin banyak bidang pengabdian yang bisa dimasuki alumni, tentu akan memperkuat pula kontribusi alumni untuk pondok, maupun peran pondok yang akan semakin dirasakan umat. Maka, memaksimalkan peran IKAPPI merupakan sebuah keharusan dan kebutuhan. IKAPPI menjadi media yang dapat terus menjaga hubungan alumni dengan pondok. Di samping mempertemukan berbagai generasi alumni, lebih dari itu dapat semakin memperkuat ikatan batin para alumni, rasa memiliki, kepedulian, dan keterpanggilan untuk berkontribusi terhadap pondok. Silaturahmi seperti yang dilakukan IKAPPI Yogyakarta dengan para ustadz/dzah serta sejumlah pertemuan dan kegiatan, cukup ekfetif untuk meningkatkan sense alumni terhadap almamaternya. Demikian pula, silaturahmi akbar yang digagas PB IKAPPI serta inisiatif untuk membangun gedung alumni, memperlihatkan besarnya antusias alumni terhadap pondok dan ikatan batin antar sesama alumni dari berbagai daerah dan generasi. Forum silaturahmi alumni penting untuk terus dilakukan, sembari melakukan pendataan dan pemetaan potensi alumni, sehingga pada saatnya potensi tersebut menjadi sebuah kekuatan berbasis jaringan alumni (Ittifaqiah connection). Wallahu A’alam.*
[1] Alumni Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah (MTs 2006, Aliah 2009), melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, Kairo dengan konsentrasi Tafsir dan ‘Ulum Quran (lulus 2014), sekarang tengah menempuh studi magister dalam bidang yang sama di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga aktif sebagai anggota Srikandi Lintas Iman (SRiLI) Yogyakarta.
