Ahlan wa Sahlan fi Muskat… itulah tulisan Arab pertama yang saya temui di Muskat, selamat Datang di Kota Muskat. Satu hal dalam benak saya ketika memasuki kota ini, mengenai kebersihannya yang luar biasa, belum lihat ada sampah disini kecuali di tong sampah. Haha. Jalannya lebar, dan tidak ada kemacetan, walaupun macet paling lama hanya 20 detik. Sistem lalu lintas pun menggunakan sensor otomotis, polisi lalu lintas tidak ada dijalanan seperti di Indonesia. Kecepatan pengendara mobil dibatasi maksimun kecepatannya, apabila ngebut siap-siap di foto sama sensor otomatis lalu lintas, hukumannya dipenjara satu hari. Makanya disini mobil tidak ada yang ngebut, mereka teratur menggunakan mobil. Di kanan kiri jalan maupun di dauroh (bundaran) jalan pun terdapat taman bungan yang berwarna-warni, sedap dipandang kau Muskat.
Disini juga tidak ada gedung pencakar langkit layaknya di Negara Arab lain seperti Dubai. Atas perintah Sultan, gedung-gedung bertingkat batas maksimum ketinggiannya hanya delapan lantai. Walaupun begitu tetap kota Muskat sebagai kota Modern dengan gaya khas bangunan Arabnya. Kota ini memiliki banyak tempat destinasi pariwisata, mulai dari wisata alam bahr (pantai), jabal (gunung), wadi (sungai kering), sampai wisata kuliner yang melimpah ruah makanan khas Arabia. Dari wisata sejarah, Oman juga memiliki sejarah yang luar biasa masih bisa dilihat di beberapa Museum di Muskat.
Untuk masalah biaya hidup (living cost) disini, lumayan. Right.. lumayan mahal. 1 Riyal Oman kalo di rupiahin Rp. 31.000,- jadi kalo semisal mau makan di restoran cepat saji perlu merogoh kocek dalam-dalam sekali makan bisa 3-5 RO setara Rp. 150.000,-. Untungnya masalah living cost disini bisa di atasi karena selama disini saya menetap bersama Kakak sepupu saya. Thanks Kak Fahri. Hhi. Kalo gak tinggal sama beliau, bisa-bisa saya tidak bakal hidup disini yang serba mahal. 😀
Sudah satu minggu disini, dan banyak sekali tempat yang sudah dikunjungi, tempat pertama yang saya kunjungi bertepatan dengan hari Maulid Nabi SAW adalah Fort an – Nakhal, castle yang sangat indah ini jaraknya lebih kurang satu jam dari Muskat, dari atas benteng ini saya bisa melihat jabal-jabal yang kering tapi indah dipandang. Lanjut dari sana ke Fort selanjutnya Fort Rustaq, fort yang satu ini masih dalam tahap renovasi, dari kedua fort tersebut saya menganggumi fort an – Nakhal. Jamiil jiddan.
Next, waktu weekend saya juga berkesempatan untuk berkunjung di dua masjid, masjid pertama Sultan Qaboos Grand Mosque, masjid ini merupakan masjid terbesar di Oman, masjid yang diresmikan pada tahun 2001 ini merupakan masjid dengan karpet buatan tangan dan lampu gantung (chandelier) terbesar kedua di dunia setelah masjid Agung Syeikh Zayed di Abu Dhabi. Masjid Sultan Qaboos ini merupakan masjid yang dibangun oleh Sultan Oman, Sultan Qaboos, sesuai nama Sultannya Masjid ini bisa menampung 20.000 jamaah sekaligus, tak heran ketika saya kesini banyak sekali wisatawan mancanegara berkunjung kesini, untuk yang non muslim waktu berkunjung dimulai pukul 08.00 – 11.00 siang. Masjid kedua yang saya kunjungi waktu shalat Jum’at ialah masjid al – Sultan Said bin Taymuur, penamaan dari masjid tersebut merupakan Ayah dari Sultan Qaboos. Dengan arsitektur yang luar biasa kental dengan nuansa Arab, interior di dalam masjid berdesain kaligrafi Arab, saya terkagum-kagum dengan kedua masjid ini. Insha Allah, shalat jum’at selama disini akan berkunjung ke masjid-masjid yang berbeda.
Destinasi yang saya kunjungi selanjutnya yaitu wadi Dayqah Dam. Wadi yang pertama saya kunjungi di Oman, sekitar 80 KM dari Muskat melewati jalur jalan tol yang lancar tanpa macet, saya bisa melihat keindahan Wadi Dayqah ini, dengan keindahan yang bikin saya kagum luar biasa, subhanllah. Banyak juga para tourist baik dari tourist domestik maupun mancanegara berkunjung ke Wadi ini, karena disediakan taman-taman untuk sekedar menikmati keindahan Wadi ataupun membawa bekal makanan dari rumah untuk piknik di sini.